Tanggal Posting

November 2016
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Aktifitas


Kehinaan Kaum Oportunis

KEHINAAN KAUM OPORTUNIS PEMBELA SANG PENISTA AL-QUR’AN

Dari tulisan, ucapan dan tindakannya, kita bisa mengetahui pikiran seseorang, sekaligus perilakunya. Orang yang pikirannya rendah akan melakukan pekerjaan murahan. Orang yang pikirannya tinggi akan melakukan pekerjaan yang besar. Begitu juga orang yang pikirannya hina akan melakukan pekerjaan-pekerjaan hina. Karena perilaku seseorang ditentukan oleh pikirannya, dan dari perilakunya kita tahu bagaimana pikirannya; tinggi, rendah atau hina.

foto-citra-kondisi-cuaca-wilayah-jabodetabek-pada-jumat-4-11-_161104201549-219Dalam konteks al-Qur’an, al-Qur’an adalah kalam Allah. Bukan sembarang kalam, tetapi kalam yang melemahkan jin dan manusia untuk membuat semisalnya. Maka, sejak Nabi Muhammad diutus, dan al-Qur’an diturunkan hingga saat ini tak ada satu pun yang sanggup membuat padanannya, baik satu ayat, satu surat, apatah lagi satu kitab. Karena itu, tak ada satupun kaum Kafir Quraisy, yang nota bene paham betul bahasa, gaya bahasa dan isinya, mengatakan bahwa al-Qur’an bohong. Karena mereka tahu, al-Qur’an bukan kalam manusia, termasuk Nabi Muhammad saw. tetapi al-Qur’an adalah kalam Allah.

Ketika ada orang Kafir, bukan Arab, yang tidak bisa bahasa Arab, tidak tahu gaya bahasa Arab, tidak paham isi al-Qur’an, lalu mengatakan al-Qur’an bohong, ketika mengatakan, “Jangan mau dibohongi dengan Q.s. al-Maidah ayat 51.” jelas orang ini lebih bodoh dari orang Arab Jahiliyah. Bagaimana tidak, orang Arab Jahiliyah saja tidak pernah mengatakan al-Qur’an bohong, padahal mereka paham bahasanya. Sementara dia, jangankan paham, baca dan mengerti isinya pun tidak.

Lebih bodoh dan hina lagi adalah orang yang membelanya. Terlebih, yang mengaku Muslim. Betapa tidak bodoh, mereka sudah tahu bahwa Sang Penista telah menistakan kitab sucinya, tetapi tetap saja dia bela. Bahkan, ada yang dengan arogan mengatakan kepada Sang Penista, “Tidak perlu minta maaf.” yang justru semakin menunjukkan kebodohan, bahkan kehinaannya.

Setelah Sang Penista minta maaf, meski bukan atas penistaannya terhadap al-Qur’an, tetapi atas kegaduhan yang ditimbulkan, ada juga yang mengatakan, “Dia kan sudah minta maaf.” Seolah tidak tahu, bahwa soal penistaan adalah soal hak Allah [haqqu-Llah], bukan hak manusia [haqqun Adami]. Tak ada satu pun manusia yang bisa menggantikan Allah memaafkannya, kecuali dengan ditegakkannya hukum Allah kepadanya oleh negara.

Bahkan, yang lebih bodoh dan hina lagi, sudah jelas-jelas tahu ini adalah penistaan, masih saja mengatakan ini bukan penistaan, sambil terus mengulur proses hukum. Hebatnya lagi, seluruh kekuasaan yang dimilikinya digunakan untuk menggembosi reaksi umat yang membela kehormatan kitab sucinya. Sambil menyebarkan berita bohong, bahwa aksi umat membela kitab sucinya itu ditunggangi kelompok tertentu. Aksi umat itu akan rusuh. Aksi umat itu ditunggangi ISIS. Indonesia mau dijadikan seperti Suriah, Arab Spring-lah, macam-macam. Semua diarahkan kepada reaksi umat, sementara sumber masalahnya, penistaan al-Qur’an dan penistanya sendiri tetap tak tersentuh.

Ketika berbagai tindakan bodoh dan hina dilakukan kepada umat Nabi Muhammad yang mulia, tetapi gagal menggembosi apalagi menghancurkan kekuatannya, mulailah panik. Dalam kondisi normal saja, perilakunya bodoh dan hina, apalagi dalam kondisi panik. Lagi-lagi, yang dikomentasi reaksi umat. Bukan penistaan dan penistanya.

Lebih hina dan bodoh lagi, ada yang berkomentar, seolah baru bangun tidur, “Ono opo toh iki?” Bahkan, dengan kebodohan dan kehinaannya, dia mengajari orang lain tentang Islam, sambil mengatakan, “Islam kog ngono, sopo sing ngajari?”. Padahal dia sendiri melafalkan, “Allah SWT.” saja tidak bisa. Lebih menyedihkan lagi, ada ketua partai pendukung Sang Penista, melafalkan, “Nahi Munkar” saja tidak bisa.

Bahkan yang lebih hina lagi, sudah tahu al-Qur’an dinista, penistanya pun sudah jelas, dia malah mencarikan dalil-dalil dalam al-Qur’an, Hadits dan pandangan ulama’ agar Sang Penista itu dipilih oleh umat Islam. Tidak hanya melalui pernyataan, tetapi juga tulisan, bahkan booklet pun disebarluaskan. Mereka ini jelas-jelas hina, bukan saja di hadapan umat Islam, tetapi juga di mata Sang Penista, karena sanggup dibeli untuk kepentinganya. Apatah lagi di mata Allah, tentu sudah tidak ada harganya.

Bagaimana tidak, larangan dalam Q.s. al-Maidah: 51 yang begitu terang benderang mengatakan, “La tattakhidzu al-Yahuda wa an-Nashara auliya’ [Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman/ pemimpin].” diperkosa untuk memenuhi birahi politiknya dengan mengatakan, “Auliya’ itu berbentuk jamak, bukan tunggal. Karena itu, yang tidak boleh adalah, kalau semua yang dijadikan pemimpin itu orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi, kalau satu dua boleh. Karena kepemimpinan sekarang bersifat kolektif.”

Bagaimana tidak bodoh, dan hina pandangan seperti ini. Pertama, kata Auliya’ jelas harus berbentuk jamak, karena dia merupakan predikat bagi lafadz, al-Yahuda wa an-Nashara yang jamak. Sebab, tidak mungkin subyeknya jamak, sementara predikatnya tunggal. Kedua, baik al-Yahuda wa an-Nashara maupun Auliya’ sama-sama merupakan obyek [maf’ul bih] bagi larangan, “La tattakhidzu [Janganlah kalian menjadikan].” Karena itu, tidak ada satu pun orang yang menggunakan nalarnya menyatakan, bahwa ini adalah larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin secara kolektif, tetapi tidak secara personal.

Bahkan, ada yang lebih bodoh dan di luar nalar sehat, ketika dengan tanpa malu lagi menggunakan hadits, “Unshur akhak dzalim[an] atau madzlima[an] [Tolonglah Ahok, baik zalim maupun dizalimi.” Selain memanipulasi lafadz, “Akhak [saudaramu]” dalam bahasa Arab, yang artinya saudaramu, dengan Ahok, yang jelas fatal, juga berdusta atas nama Nabi. Seolah-olah Nabi memerintahkan kita untuk menolong Ahok, baik zalim maupun dizalimi. Semuanya ini adalah tindakan bodoh, bukan hanya bodoh, tapi hina. Karena telah berdusta atas nama Nabi, sehingga menghalalkan dirinya tempat di neraka.

Celakanya, kebodohan demi kebodohan, dan kehinaan demi kehinaan ini distempel dengan baju organisasi Islam, santri, kyai dan ulama’. Maka, tidak ada ungkapan yang tepat untuk mereka, kecuali hadits Nabi saw.

وَإِنْ لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Jika kamu sudah tidak mempunyai rasa malu lagi, maka lakukanlah apa yang kamu mau.” [H.R. Bukhari]

Mereka berpikir, dengan tindakan bodoh, hina dan piciknya itu akan meraih kemuliaan, sehingga sanggup menjual sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu iman. Tetapi, itulah pilihan hidup kaum oportunis, orang-orang Munafik. Allah mengingatkan:

وَللهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلَكِنَّ المُنَافِقِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. Tetapi, orang-orang Munafik itu tidak mengetahuinya.” [Q.s. al-Munafiqun: 08]

***(Penulis:  Mahbubah)


4 comments to Kehinaan Kaum Oportunis

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>